Wednesday, 16 December 2009

Hidup Sehat Tanpa Tembakau


MENGHENTIKAN kebiasaan merokok memang tidaklah mudah. Namun, bukan berarti Anda tak bisa melakukannya. Dengan disiplin serta motivasi dan keinginan yang kuat berhenti merokok, bukanlah hal mustahil.

Bak candu, rokok telah membius banyak orang. Saking kecanduannya, mereka sama sekali tak menggubris bahaya di balik kepulan asap rokok tersebut. Malah, sebagian orang mengaku tak bisa konsentrasi atau mengeluarkan ide tanpa rokok. Padahal, di balik itu semua rokok telah menjadi pembunuh berdarah dingin. Tak percaya? Tengok saja data dari Demografi Universitas Indonesia yang dilansir tahun lalu.






Dari data tersebut disebutkan jumlah perokok aktif di Jakarta diperkirakan mencapai tiga juta orang atau 35 persen dari 9,057 juta warga Jakarta. Sementara itu, jumlah total perokok aktif di Jakarta juga meningkat 1 persen per tahun. Data juga menyebutkan bahwa di Indonesia ada 1.172 orang meninggal dunia per hari karena penyakit yang diakibatkan rokok.

Tembakau atau rokok membunuh separuh dari masa hidup perokok dan separuh perokok mati pada usia 35-69 tahun. Data epidemi tembakau di dunia menunjukkan tembakau membunuh lebih dari lima juta orang setiap tahunnya.

"Jika hal ini berlanjut terus, pada 2020 diperkirakan terjadi sepuluh juta kematian, dengan 70 persen terjadi di negara sedang berkembang," jelas Menteri Kesehatan dr Endang R Sedyaningsih MPH Dr PH dalam sambutan yang dibacakan Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Dirjen P2PL Depkes ketika membuka Temu Karya Peringatan Kesehatan akan Bahaya Rokok, di Jakarta, 12 Desember 2009.




Pada masa mendatang, masalah kesehatan akibat rokok di Indonesia semakin berat karena dua di antara tiga laki-laki adalah perokok aktif.Lebih bahaya lagi karena 85,4 persen perokok aktif merokok dalam rumah, bersama anggota keluarga sehingga mengancam keselamatan kesehatan lingkungan. "Selain itu, 50 persen orang Indonesia kurang aktivitas fisik dan 4,6 persen mengonsumsi alkohol," kata Menkes.

Fakta juga mengungkapkan bahwa lebih dari 43 juta anak Indonesia serumah dengan perokok dan terpapar asap tembakau. Padahal, anak-anak yang terpapar asap tembakau dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat, lebih mudah terkena bronkitis dan infeksi saluran pernapasan dan telinga serta asma. "Kesehatan yang buruk di usia dini menyebabkan kesehatan yang buruk di saat dewasa," imbuh Menkes.

Berdasarkan data The Global Youth Survey pada 2006, 6 dari 10 pelajar (64,2 persen) yang disurvei, terpapar asap rokok selama mereka di rumah. Lebih dari sepertiga (37,3 persen) merokok, bahkan 3 di antara 10 pelajar atau 30,9 persen pertama kali merokok pada umur di bawah 10 tahun.

Menurut Menkes, meningkatnya jumlah perokok di kalangan anakanak dan kaum muda Indonesia karena dipengaruhi gencarnya iklan rokok, promosi, dan sponsor rokok. Padahal, rokok atau tembakau dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular, seperti jantung dan gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker mulut. Di samping itu, rokok juga menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insiden hamil di luar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi, dan peningkatan kematian perinatal.





Mengonsumsi rokok menimbulkan kerugian langsung bagi perokok dan keluarganya, terlebih bagi keluarga miskin. Rata-rata pengeluaran keluarga miskin untuk konsumsi rokok cukup besar. "Alih-alih untuk perbaikan gizi keluarga dan pendidikan anak, justru pendapatan yang terbatas dibelanjakan untuk rokok," ujar Menkes.

Menurut Menkes, tingginya populasi dan konsumsi rokok menempatkan Indonesia menduduki urutan ke-5 konsumsi tembakau tertinggi di dunia, setelah China, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang, dengan perkiraan konsumsi 220 miliar batang pada 2005.

"Marilah kita ciptakan lingkungan yang bersih dan bebas asap rokok, sehingga generasi muda kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh, berkualitas, dan siap membangun negara kita,? pesan Menkes.

"Sekitar 70 persen perokok ingin berhenti, tetapi hanya 5-10 persen yang dapat melakukannya tanpa bantuan,? jelas ahli spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Umum Persahabatan Dr Tribowo T Ginting SpKJ. Dengan adanya peran psikologis yang cukup besar pada timbulnya merokok terhadap seseorang, penting diperhatikan tata laksana dan pemantauan psikologis dalam proses berhenti merokok.

"Beberapa bentuk terapi yang bisa dilakukan agar para pecandu rokok berhenti merokok adalah dengan konseling, peningkatan motivasi, terapi kognitif dan perilaku, dan lainnya,? papar Tribowo saat menjadi pembicara dalam acara Malam Penghargaan Peserta Quitters Are Champions, yang diadakan Pfizer Indonesia, belum lama ini.

Dokter Spesialis Paru dan Wakil Ketua Klinik Berhenti Merokok RSUP Persahabatan Dr Agus Dwi Susanto SpP mengatakan, populasi penduduk Asia yang berhenti merokok alasannya adalah demi kesehatan, yang kemudian adalah alasan keluarga dan ekonomi. "Pendekatan berhenti merokok adalah dengan melakukan pendekatan multidisiplin, di mana modal awal yang harus dimiliki adalah motivasi, niat, serta komitmen," ujar Agus.

Seperti yang dialami salah satu pecandu rokok yang berhenti merokok, Brahmantya Sakti. Pria berusia 33 tahun ini dulu mengaku sudah menjadi perokok selama 17 tahun. Setiap hari dia mampu mengisap 20-30 batang per harinya. ?Life without tobacco is my new lifestyle,? tuturnya.

Semua perokok pasti di dalam hati kecilnya sadar bahwa merokok sama sekali tidak ada manfaatnya. Namun, diperlukan lebih dari sebuah niat yang kuat untuk berhenti, yaitu dukungan lingkungan. Sementara itu, lingkungan di Indonesia sangat mendukung sekali untuk merokok. Tidak ada pengawasan dan tindakan tegas, walaupun sudah ada peraturannya.

"Dan celakanya, merokok sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup di semua lapisan masyarakat," ujar Brahmantya.

Brahmantya menyarankan para pecandu untuk mengubah tren gaya hidup menjadi tidak merokok. Brahmantya yakin hidup tanpa rokok bisa menjadi suatu tren, gaya hidup (lifestyle) yang akan diikuti banyak orang seperti layaknya Blackberry menjadi tren di Indonesia. Atau paling tidak untuk kalangan profesional atau mereka yang well educated.





"Pendekatan digunakan secara logika maupun spiritual, saya yakin, akan efektif. Tinggal dibutuhkan suatu kelompok, institusi atau swasta yang melakukannya secara konsisten," ujarnya.

(OKEZONE.COM)

Ditulis Oleh : khoiril anwar // 23:12
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment